Rabu, 04 Oktober 2023

Cegah Stunting Sejak Dini


Cegah Stunting Sejak Dini

        Saat ini stunting masih menjadi pembicaraan di berbagai sektor, tidak hanya di sektor kesehatan saja. Mulai dari sektor pendidikan, sosial maupun ekonomi. Stunting merupakan suatu kondisi gagal tumbuh pada anak di bawah 5 tahun akibat kekurangan gizi kronis sehingga tinggi badan atau panjang badan anak dibawah standar. Perlu diperhatikan bahwa tidak semua anak pendek itu stunting, perlu pemeriksaan lebih lanjut, tetapi anak stunting pasti pendek. Penanganan stunting merupakan hal yang kompleks, membutuhkan peran dari berbagai sektor.

       Jika stunting diketahui sejak dini, pemulihan untuk mengembalikan ke kondisi tinggi badan normal akan relatif lebih mudah dan cepat. Terdapat istilah masa emas anak yaitu masa 1000 HPK (1000 Hari Pertama Kehidupan). 1000 HPK dimulai dari bayi di dalam kandungan sampai anak berusia 2 tahun. Di waktu ini stunting bisa lebih cepat untuk ditangani. Sebaliknya jika penanganan stunting di usia lebih dari 2 tahun maka waktu pemulihan akan lebih lama.

Cara penanganan bagi anak stunting diberikan gizi yang cukup sesuai porsi isi piringku, yaitu ada makanan pokok (nasi), lauk pauk (protein hewani, protein nabati), sayuran, buah. Untuk menjadi perhatian bahwa porsi lauk hewani dianjurkan lebih banyak dibandingkan dengan lainnya. Makanan yang termasuk dalam golongan protein hewani adalah telur, daging ayam, ikan, daging sapi, daging kambing, hati ayam. Di dalam lauk hewani selain mengandung protein tinggi juga mengandung vitamin dan mineral yang lebih tinggi dibandingkan vitamin dan mineral yang terdapat pada buah dan sayur.

        Pencegahan stunting secara komprehensif bisa dilakukan sejak usia remaja, terutama remaja putri. Di mana remaja putri mengalami menstruasi yang akan berpengaruh terhadap kadar hemoglobin di dalam darah. Maka remaja putri rentan mengalami anemia. Para remaja putri ini di masa yang akan datang akan menikah dan akan mengalami masa kehamilan. Jika pada masa kehamilan sang calon ibu mengalami anemia maka rentan mengalami kelahiran prematur, perdarahan pasca melahirkan dan berisiko melahirkan anak yang stunting.

          Untuk mencegah anemia pada remaja salah satunya dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja putri usia 12-18 tahun, dikonsumsi setiap minggu sekali. Hal ini dapat memutus mata rantai kejadian stunting pada anak. Jika hanya fokus menangani anak-anak stunting saja maka angka kejadian stunting akan terus ada pada generasi-generasi selanjutnya. Harapannya dengan remaja yang sehat akan menghasilkan keturunan yang sehat, unggul, berdaya saing dan bebas stunting. (Tika/Promkes)







Tidak ada komentar:

Posting Komentar