Cegah
Stunting Sejak Dini
Saat
ini stunting masih menjadi pembicaraan di berbagai sektor, tidak hanya di
sektor kesehatan saja. Mulai dari sektor pendidikan, sosial maupun ekonomi.
Stunting merupakan suatu kondisi gagal tumbuh pada anak di bawah 5 tahun akibat
kekurangan gizi kronis sehingga tinggi badan atau panjang badan anak dibawah
standar. Perlu diperhatikan bahwa tidak semua anak pendek itu stunting, perlu
pemeriksaan lebih lanjut, tetapi anak stunting pasti pendek. Penanganan
stunting merupakan hal yang kompleks, membutuhkan peran dari berbagai sektor.
Jika stunting diketahui sejak dini,
pemulihan untuk mengembalikan ke kondisi tinggi badan normal akan relatif lebih
mudah dan cepat. Terdapat istilah masa emas anak yaitu masa 1000 HPK (1000 Hari
Pertama Kehidupan). 1000 HPK dimulai dari bayi di dalam kandungan sampai anak
berusia 2 tahun. Di waktu ini stunting bisa lebih cepat untuk ditangani.
Sebaliknya jika penanganan stunting di usia lebih dari 2 tahun maka waktu
pemulihan akan lebih lama.
Cara
penanganan bagi anak stunting diberikan gizi yang cukup sesuai porsi isi
piringku, yaitu ada makanan pokok (nasi), lauk pauk (protein hewani, protein
nabati), sayuran, buah. Untuk menjadi perhatian bahwa porsi lauk hewani dianjurkan
lebih banyak dibandingkan dengan lainnya. Makanan yang termasuk dalam golongan
protein hewani adalah telur, daging ayam, ikan, daging sapi, daging kambing,
hati ayam. Di dalam lauk hewani selain mengandung protein tinggi juga
mengandung vitamin dan mineral yang lebih tinggi dibandingkan vitamin dan
mineral yang terdapat pada buah dan sayur.
Pencegahan stunting secara
komprehensif bisa dilakukan sejak usia remaja, terutama remaja putri. Di mana
remaja putri mengalami menstruasi yang akan berpengaruh terhadap kadar
hemoglobin di dalam darah. Maka remaja putri rentan mengalami anemia. Para
remaja putri ini di masa yang akan datang akan menikah dan akan mengalami masa
kehamilan. Jika pada masa kehamilan sang calon ibu mengalami anemia maka rentan
mengalami kelahiran prematur, perdarahan pasca melahirkan dan berisiko
melahirkan anak yang stunting.
Untuk mencegah anemia pada remaja salah satunya dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja putri usia 12-18 tahun, dikonsumsi setiap minggu sekali. Hal ini dapat memutus mata rantai kejadian stunting pada anak. Jika hanya fokus menangani anak-anak stunting saja maka angka kejadian stunting akan terus ada pada generasi-generasi selanjutnya. Harapannya dengan remaja yang sehat akan menghasilkan keturunan yang sehat, unggul, berdaya saing dan bebas stunting. (Tika/Promkes)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar