Rabu, 11 Oktober 2023

Sayangi Dirimu Dengan Menjaga Mental Health

 



Mental Health atau yang akhir-akhir ini sering kita dengar dengan kesehatan jiwa menjadi topik pembahasan yang hangat di kalangan masyarakat. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukkan lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi. Berdasarkan sampeling yang dilakukan Badan Litbangkes tahun 2016, diperoleh data bunuh diri per tahun sebanyak 1.800 orang atau setiap hari ada 5 orang melakukan bunuh diri, serta 47,7% korban bunuh diri adalah pada usia 10-39 tahun yang merupakan usia anak remaja dan usia produktif.

Prevalensi orang dengan gangguan jiwa sekitar 1 dari 5 penduduk, artinya sekitar 20% populasi di Indonesia itu mempunyai potensi-potensi masalah gangguan jiwa. Masalah mental saat ini merupakan masalah yang sangat besar karena 20% dari 250 juta jiwa secara keseluruhan potensial mengalami masalah kesehatan jiwa.  Kesehatan mental tidak bisa dianggap remeh karena masalah kesehatan mental yang terlambat terdeteksi bisa menyebabkan buruknya kualitas hidup,

 Tentu kita selalu bertanya-tanya sebenarnya apa sih arti kesehatan jiwa? Orang seperti apa orang dikatakan sehat secara kejiwaan? Apa secara kejiwaan saya sehat? Berdasarkan WHO jiwa yang sehat adalah ketika seseorang tersebut merasa sehat dan bahagia, mampu menghadapi tantangan hidup serta dapat menerima orang lain sebagaimana seharusnya serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Saat ini pemerintah sudah menyediaakan pelayanan kesehatan mental di fasilitas kesehatan sampai tingkat terbawah. Untuk mengetahui apakah kita sehat secara mental maka lakukanlah cek kesehatan mental kita di fasilitas kesehatan terdekat dengan melakukan screening. (siwi/epid)

Jumat, 06 Oktober 2023

Rencana Tindak Lanjut Paska Penilaian Eradikasi Frambusia

Rabu, 6 September kemarin adalah puncak penilaian eradikasi frambusia bagi kabupaten Tegal. Dan hasilnya, kabupaten Tegal dapat dipastikan akan mendapatkan sertifikat bebas frambusia. Sertifikat tersebut akan diserahkan kurang lebih 3 bulan setelah penilaian. Lalu, apa langkah-langkah yang harus dilakukan paska penilaian eradikasi frambusia?


Meksipun Tegal telah dinyatakan bebas frambusia setelah menerima sertifikat nanti, tetap saja ada kemungkinan muncul kasus frambusia. Bisa jadi import dari provinsi lain yang endemis. Oleh karena itu ada beberapa langkah yang harus tetap dilakukan paska penilaian eradikasi frambusia sampai dengan batas waktu tertentu yang akan diputuskan oleh Kementerian Kesehatan RI untuk berhenti melakukannya, yaitu:

1. Upaya promosi kesehatan. 

Upaya sosialisasi, edukasi tentang frambusia, PHBS, kesehatan lingkungan tetap harus dilakukan paska penilaian. 

2. Laporan Zero Report

Laporan zero report, setiap bulannya harus tetap dilaporkan maksimal tanggal 5 bulan berikutnya. Baik online, maupun offline. Hal ini untuk membuktikan proses pengamatan penyakit masih terus berlangsung.

3. Skrining kasus

Penyaringan kasus frambusia tetap dilakukan meskipun dalam bentuk upaya pemeriksaan pasif di tempat pelayanan kesehatan. Bukan secara aktif melakukan kunjungan ke lapangan untuk mencari kasus suspek frambusia. Terkecuali ada laporan dari warga mengenai adanya kecurigaan kasus frambusia, petugas puskesmas harus berkunjung ke lapangan.

4. Pertemuan evaluasi dan perencanaan

Untuk memastikan kegiatan paska penilaian eradikasi frambusia tetap berjalan, tentunya koordinasi harus diadakan dalam pertemuan-pertemuan evaluasi dan perencanaan kegiatan.

5. Penganggaran kegiatan 

Kegiatan paska penilaian eradikasi frambusia tetap diangarkan meskipun bukan secara ekspilit dan spesifik untuk frambusia, namun dapat terintegrasi dengan kegiatan lain seperti pertemuan kader, kegiatan penyuluhan warga, posyandu, dan sebagainya. (bjm/epid) 

Rabu, 04 Oktober 2023

Cegah Stunting Sejak Dini


Cegah Stunting Sejak Dini

        Saat ini stunting masih menjadi pembicaraan di berbagai sektor, tidak hanya di sektor kesehatan saja. Mulai dari sektor pendidikan, sosial maupun ekonomi. Stunting merupakan suatu kondisi gagal tumbuh pada anak di bawah 5 tahun akibat kekurangan gizi kronis sehingga tinggi badan atau panjang badan anak dibawah standar. Perlu diperhatikan bahwa tidak semua anak pendek itu stunting, perlu pemeriksaan lebih lanjut, tetapi anak stunting pasti pendek. Penanganan stunting merupakan hal yang kompleks, membutuhkan peran dari berbagai sektor.

       Jika stunting diketahui sejak dini, pemulihan untuk mengembalikan ke kondisi tinggi badan normal akan relatif lebih mudah dan cepat. Terdapat istilah masa emas anak yaitu masa 1000 HPK (1000 Hari Pertama Kehidupan). 1000 HPK dimulai dari bayi di dalam kandungan sampai anak berusia 2 tahun. Di waktu ini stunting bisa lebih cepat untuk ditangani. Sebaliknya jika penanganan stunting di usia lebih dari 2 tahun maka waktu pemulihan akan lebih lama.

Cara penanganan bagi anak stunting diberikan gizi yang cukup sesuai porsi isi piringku, yaitu ada makanan pokok (nasi), lauk pauk (protein hewani, protein nabati), sayuran, buah. Untuk menjadi perhatian bahwa porsi lauk hewani dianjurkan lebih banyak dibandingkan dengan lainnya. Makanan yang termasuk dalam golongan protein hewani adalah telur, daging ayam, ikan, daging sapi, daging kambing, hati ayam. Di dalam lauk hewani selain mengandung protein tinggi juga mengandung vitamin dan mineral yang lebih tinggi dibandingkan vitamin dan mineral yang terdapat pada buah dan sayur.

        Pencegahan stunting secara komprehensif bisa dilakukan sejak usia remaja, terutama remaja putri. Di mana remaja putri mengalami menstruasi yang akan berpengaruh terhadap kadar hemoglobin di dalam darah. Maka remaja putri rentan mengalami anemia. Para remaja putri ini di masa yang akan datang akan menikah dan akan mengalami masa kehamilan. Jika pada masa kehamilan sang calon ibu mengalami anemia maka rentan mengalami kelahiran prematur, perdarahan pasca melahirkan dan berisiko melahirkan anak yang stunting.

          Untuk mencegah anemia pada remaja salah satunya dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja putri usia 12-18 tahun, dikonsumsi setiap minggu sekali. Hal ini dapat memutus mata rantai kejadian stunting pada anak. Jika hanya fokus menangani anak-anak stunting saja maka angka kejadian stunting akan terus ada pada generasi-generasi selanjutnya. Harapannya dengan remaja yang sehat akan menghasilkan keturunan yang sehat, unggul, berdaya saing dan bebas stunting. (Tika/Promkes)







Jumat, 22 September 2023

Surveilans Sentinel Kusta Kabupaten Tegal 2023

Spesial, kabupaten Tegal terpilih menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan surveilans sentinel kusta. Sebuah kegiatan surveilans epidemiologi pada wilayah tertentu untuk mengetahui permasalahan pada daerah tersebut. Kegiatan ini diadakan oleh BBTKLPP Yogyakarya, Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit di bawah Kementerian Kesehatan RI.


 

 
 

Sosialisasi kegiatan ini diadakan kemarin Rabu (19/9) di gedung KPRI Bakti Husada Slawi. Tak tanggung-tanggung, acara ini diisi oleh narasumber Dr. dr. Sri Linuwih, Sp.KK (K), dari departemen DV FKUI-RSCM. 

Kegiatan surveilans sentinel kusta ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada resistensi kuman kusta terhadap antibiotik, khususnya Rifampicin, Dapsone dan Ofloxacin. Kegiatan ini menyasar 70 pasien kusta yang tersebar dalam 20 wilayah puskesmas. 

"Petugas puskesmas akan mengambil sampel pemeriksaan BTA skin smear pasien, lalu akan kami bawa ke Jogja untuk diselidiki apakah ada kekebalan kuman kusta terhadap obat kusta," terang Dwi Amalia, ketua tim panitia sosialisasi dari BBTKLPP.

Kegiatan ini akan berlangsung selama 3 minggu, dan sampel akan terkumpul maksimal tanggal 10 Oktober 2023. Tentunya, kita berharap tidak akan ada kekebalan kuman kusta terhadap antibiotik, karena itu akan menjadi permasalahan baru dalam program kusta, di samping masalah eliminasi yang tak kunjung tercapai di kabupaten Tegal. (bjm/epid)    

Jumat, 08 September 2023

Apakah ada resistensi kuman kusta terhadap antibiotik?

Dalam pengobatan penyakit Tuberkulosis ada istilah TB RO (Resisten Obat). Bagaimana dengan kusta? Beberapa kasus kusta terjadi relaps/kambuh, masuk kembali dan ganti tipe. Kabupaten Tegal sendiri belum pernah menjumpai kasus relaps yang setelah pengobatan 24 bulan terbukti indeks morfologinya masih positif. Untuk memastikan adanya resistensi kuman kusta terhadap obat MDT (Multi Drug Therapy) kusta, maka perlu adanya sebuah penelitian.

Bulan September ini, BBTKLPP (Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit) Yogyakarya akan mengadakan sebuah survey sentinel kusta di Tegal. Agendanya adalah mengumpulkan sampel kuman dari penderita kusta yang akan diteliti resistensinya terhadap obat MDT yang selama ini digunakan untuk terapi kusta. Penasaran dengan hasilnya ya, semoga tidak menambah masalah baru bagi program kusta. (bjm/epid)    



Selasa, 05 September 2023

Penilaian eradikasi frambusia oleh tim Pusat

Hari ini, Rabu 6 September 2023 adalah penentuan final apakah Tegal akan mendapatkan sertifikat bebas frambusia atau tidak. Penilaian eradikasi frambusia dilaksanakan di ruang rapat bupati Tegal pukul 13.00 WIB, diikuti semua perwakilan puskesmas. Dilanjutkan agenda kunjungan ke puskesmas sampel yaitu puskesmas Pagiyanten. Tim pusat yang akan menilai terdiri dari Tim NTD Kemenkes RI, tim PAEI, dan PERDOSKI. Agenda penilaian adalah pemaparan materi eradikasi frambusia kabupaten Tegal dan wawancara uji kompetensi.


Senin, 04 September 2023

Tips Bagi Nakes Yang Mau Kuliah Lagi


Hai, Nakes. Ayo kuliah lagi untuk meningkatkan kapabilitas Sumber Daya Manusia. Berikut ini tips untuk Anda yang mau kuliah lagi: 

1. Pilih kampus dan jurusan kuliah yang sesuai dengan kebutuhan, keinginan, aturan linearitas kepegawaian/instansi, budget.

2. Dukungan keluarga. Ingat, kuliah menyita waktu dan fokus. Berat sekali kuliah tidak didukung keluarga.

3. Segeralah lulus. Jangan lama-lama apalagi karena malas, kecuali memang karyamu mengharuskanmu lama selesai. Idealis boleh tapi tetap harus terukur dan terencana. Pastikan resourcesmu mendukungmu jika mau idealis demikian. Dan buktikan molornya waktu akan terbayar lunas dengan prestasi akademis dan kualitas karya tulis yang berbobot.

4. Esensi kuliah adalah meningkatkan ilmu, kapabilitas, cara berpikir empiris, taktis, sistematis, memperluas network, soft skill seperti kepemimpinan dan kerja sama. Sedangkan gelar, ijazah, sertifikat kompetensi adalah bonus.

5. Buktikan bahwa setelah lulus kamu benar-benar naik level. Lebih solutif, siap diberi tugas lebih berat secara kualitas, lebih manfaat bagi sesama, perubahan yang sangat signifikan dalam kemampuan intelektual. Jika selesai wisuda kok gak ada perubahan pada dirimu, ini pasti ada yang salah dengan kuliahmu. (bjm/epid)