Minggu, 03 Juli 2022

SUSUNAN PENGURUS IAKMI PERIODE 2019 S.D. 2022

 

SUSUNAN PENGURUS IAKMI PERIODE 2019 S.D. 2022

CABANG KABUPATEN TEGAL

Penasihat

:

1. dr Widodo Joko Mulyono, M.Kes. MM

 

 

2. dr Hendadi Setiaji, M.Kes.

 

 

3. Muchtar Mawardi, SKM.M.Kes

 

 

4. Toto Raharjo, SKM

 

 

5. Ahmad Bukhori, SKM.M.Kes

 

 

6. Amat Kiswandi, SKM.MM

 

 

 

Ketua Umum

:

Joko Kurnianto, SKM, M.Kes

Ketua I

:

Begjo Utomo, SKM, M.Kes.

Ketua II

:

Yulia Prihastuti, SKM

Sekretaris I

:

Afiati HK, SKM,MPH, AAAK

Sekretaris II

:

Nur Ika Sofiyati, SKM,MH.Kes.

Bendahara I

:

Elly Novita, SKM

Bendahara II

:

Dwi Hastuti, SKM

 

 

 

Bidang Organisasi

:

1. Rizal Purnomo, SKM.M.Kes.

 

 

2. Ari Dwi Cahyani, SKM, M.Kes.

 

 

3. Bintang Nurkhaleda, SKM

 

 

4. St. Risya Alifyanti, SKM

 

 

5. Firsty Umar Firmansyah, SKM

 

 

 

Bidang Advokasi

:

1.     Taryana, SKM,M.Kes.

 

 

2.     M. Insanudin, SKM

 

 

3.     Patriawati Narendra, SKM

 

 

4.     Edy Thopiq, SKM.M.Kes.

 

 

5.     Sri Harso Pamoro, SKM,MM

 

 

6.     Aliem Syarifudin, SKM

 

 

7.     Nurdiana, SKM

 

 

 

Bidang Pengabdian Masyarakat

:

1.     Slamet, SKM

 

 

2.     Mahmudah Khurotul Aeny, SKM

 

 

3.     Ustriyaningsih, SKM

 

 

4.     Puji Kusumawati, SKM

 

 

5.     Firnanda Zia Azmi, SKM

 

 

6.     M. Ikhsan, SKM

 

 

7.     Eva Ilmiyatin Wihdah, SKM.M.Kes.

 

 

 

Bidang Penelitian Pengembangan

:

1.     Bagus Johan Maulana , SKM

 

 

2.     Edy Sucipto, SKM.M.Si.

 

 

3.     Isnaeni Setyani, SKM

 

 

4.     Nani Yulianti, SKM

 

 

5.     Anggraeni Kusumawardhani, SKM

 

 

6.     Erna S, SKM, M.Kes.

 

 

 

Bidang Pengembangan Profesi

:

1.     Mey Rohani, SKM

 

 

2.     Sairuroh, SKM, MKM

 

 

3.     Pangestutiningsih, SKM

 

 

4.     Septarina Dwiyanti Ulfa, SKM

 

 

5. Andri Amrulloh, SKM

 

 

6.  Maulana Mufidz, SKM

 

 

 

Bidang Kesejahteraan Anggota

:

1.     Henifah, SKM,MM

 

 

2.     Paramita, SKM

 

 

3.     Evi Yuniarti, SKM

 

 

4.     Lely Antari SKM

 

 

5.     Peni Okti Biaktarini, SKM

 

 

6.     Dekasih Nurlovia, SKM

 

 

7.     Vivi Umi Maratun, SKM

Visi dan Misi IAKMI

 Visi  :

Menjadi Organisasi Profesi yang Unggul dan Terdepan Dalam Pembangunan Kesehatan Masyarakat Di Kabupaten Tegal

Misi    :

1.  Menata pengelolaan organisasi dan menjaga kode etik profesi Kesehatan Masyarakat ;

2.  Mendorong dan meningkatkan Kompetensi  bidang kesehatan masyarakat  dan kesejahteraan anggota;

3.  Mengembangkan kemitraan strategis dengan pemerintah daerah, organisasi profesi, dan institusi lain dalam upaya mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

 

Visi  :

Menjadi Organisasi Profesi yang Unggul dan Terdepan Dalam Pembangunan Kesehatan Masyarakat Di Kabupaten Tegal

Misi    :

1.    Menata pengelolaan organisasi dan menjaga kode etik profesi Kesehatan Masyarakat ;

2.  Mendorong dan meningkatkan Kompetensi  di bidang kesehatan masyarakat  dan kesejahteraan anggota;

3.    Mengembangkan kemitraan strategis dengan pemerintah daerah, organisasi profesi, dan institusi  lain dalam upaya mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

 

Visi  :

Menjadi Organisasi Profesi yang Unggul dan Terdepan Dalam Pembangunan Kesehatan Masyarakat Di Kabupaten Tegal

Misi    :

1.  Menata pengelolaan organisasi dan menjaga kode etik profesi Kesehatan Masyarakat ;

2.  Mendorong dan meningkatkan Kompetensi  bidang kesehatan masyarakat  dan kesejahteraan anggota;

3.  Mengembangkan kemitraan strategis dengan pemerintah daerah, organisasi profesi, dan institusi lain dalam upaya mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Jumat, 21 Mei 2021

KEBANGKITAN NASIONAL DAN CORONA

 

KEBANGKITAN NASIONAL DI MASA PANDEMI

Oleh : Afiati Hary K. (ASN Kabupaten Tegal)

 

Kebangkitan suatu bangsa ditentukan oleh semangat bangsa itu sendiri untuk bangkit. Bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional pada setiap tanggal 20 Mei, dikondisikan untuk tetap menjaga semangat kebangsaan dan nasionalime. Hal ini sesuai amanah tiga tokoh utama Budi Utomo yaitu Douwes Dekker, dr. Cipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantoro (Suwardi Suryaningrat).  yaitu telah mewadahkan semangat pergerakan Nasional melalui berdirinya Budi Utomo 20 Mei 1908. Sebagai generasi penerus, kita ingin selalu mengenang dan mempertahankan semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Berbangsa Satu Bangsa Indonesia, Bertanah Air satu tanah air Indonesia dan Bertumpah darah satu tumpah darah Indonesia.

Semangat Nasionalisme

Saat ini rasa nasionalisme pada masyarakat kembali dipertanyakan, seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan  situasi dan kondisi. Pemerintah dan masyarakat saat ini berada pada posisi ekonomi yang memprihatinkan pasca ledakan covid-19 yang pertama pada 2020 lalu. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sempat menurun pada triwulan II tahun 2020 yaitu sebesar 2,97% semenjak adanya wabah pandemi covid pada pertengahan Maret 2020, meskipun kembali menanjak di angka 5% lebih. Sebagian masyarakat merasa sangat prihatin dengan kondisi yang terpuruk sampai imbasnya menimbulkan resesi ekomomi.  Pengangguran meningkat sebagai dampak perusahaan yang pailit karena tidak mampu membayar tenaga kerjanya, praktis mempengaruhi daya beli masyarakat. Sementara daya beli masyarakat merupakan indikator utama kemampuan ekonomi suatu bangsa disamping belanja pemerintah.

Indonesia membutuhkan perjuangan keras untuk memulihkan kondisi ekonomi yang sedang melanda saat ini. Beberapa target menjadi capaian indikator pertumbuhan ekonomi, diantaranya meliputi Growth Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto, Growth Domestic Happiness (GDH) atau Indeks Kebahagiaan, Growth Domestic Well-being (GDW) atau Indeks Kebahagiaan, Ability to Pay (daya beli masyarakat), termasuk juga tanggap darurat bencana, ketahanan pangan, ketahanan ekonomi, serta ketahanan sosial. Disamping itu berbagai kebijakan pemerintah dilancarkan untuk mengurangi pengangguran, seperti menstimulus mendatangkan investor asing, pariwisata sampai dengan kemudahan dalam permodalan untuk usaha. Kinerja ekonomi banyak ditentukan dari konsumsi rumah tangga serta daya beli masyarakat. Penguatan konsumsi rumah tangga penting guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi.  Peningkatan pertumbuhan ekonomi dengan indikator peningkatan ketahanan di bidang pangan, ekonomi juga sosial diharapkan akan lebih terpacu melalui semangat nasionalime melalui momentum Kebangkitan Nasional.

Jika pada zaman dahulu rakyat berjuang dengan menggunakan bambu runcing melawan kolonial maupun pasukan Nipon/ penjajah yang lain, perjuangan para pendahulu untuk keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), maka saat ini perjuangan bertransformasi bentuk untuk menghadapi pemulihan ekonomi pasca resesi 2020 lalu dan reformasi nasional terdampak covid-19. Resesi yang berpengaruh secara fundamental dan memerlukan reformasi secara nasional. NKRI harga mati, dan kita harus secara bersama mengusung semua program dan kebijakan pemerintah. Tidak hanya generasi muda seperti amanah sumpah pemuda dan pergerakan nasional, sekarang bahkan semua kalangan harus menyingsingkan lengan baju untuk memikirkan dan membantu memenuhi kebutuhan negara.

Mematuhi Kebijakan

Berbicara masalah pertumbuhan ekonomi tidak lepas dari pengelolaan kesehatan. Semakin tinggi angka kesakitan pada masyarakat maka pengeluaran pemerintah semakin besar. Angka kesakitan covid harus dibatasi, patuhi 3 M (Mencuci tangan pakai sabun, Menjaga jarak, dan Memakai masker) yang dilanjutkan dengan 3T  (Tracing, Test dan Treatment). Kebijakan pencegahan covid-19 mewajibkan kita untuk mengubah  perilaku sebagai wujud rasa nasionalisme, beberapa diantaranya social distancing, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan New Normal. Jika kita ingin berjuang untuk Negara Kesatuan RI berarti kita harus mengubah perilaku bermasyarakat, maskermu menjaga kesehatanku dan maskerku menjaga kesehatanmu. Tantangan dilakukan masyarakat pedesaan yang erat dengan budaya persaudaraan, maupun alasan estetika, masih cantik dan gantengkah dengan maskermu, sopankah berbicara dengan tetap memakai masker.

No tracing, kebijakan larangan mudik yang tahun kemarin masih lumayan ditaati sekarang seperti angin yang bertiup tanpa halangan. Tidak tahu karena memendam rindu yang mendalam, melakukan dharma bakti kepada orang tua ataupun alasan lainnya, atau karena alih-alih sudah diberi vaksin sehingga merasa kebal seperti sebab bencana covid di India atau karena budaya abadi masyarakat yaitu sebagai risk taker sehingga berani menghadapi apapun risiko yang di depan mata. Masyarakat seakan tidak peduli risiko covid sebagai silent killer karena Happy hypoksi (meninggal dengan unpredictable sebelumnya).  Data terakhir tecatat dari test acak yang dilakukan pada 6.724 pemudik, terdapat 4.123 orang yang terkonfirmasi positif corona. Hasil yang spektakuler jumlahnya jauh melebihi rata-rata terkonfirmasi harian di Indonesia.

Pembatasan Sosial Berskala Besar, Social distancing dan New Normal sebagaimana disebutkan di dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07.MENKES/328.2020 tentang Panduan Pencegahan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi, diharapkan merupakan supprot system pendukung pencegahan covid-19 dalam percepatan pemulihan ekonomi dan reformasi sosial. Masyarakat diharap mematuhi aturan pemerintah karena inilah wujud perjuangan yang sebenarnya, sepadan dengan bambu runcing dan meninggal di medan laga bahkan terasa lebih berat karena harus mengubah perilaku atau budaya. Masyarakat harus memiliki tekad untuk mematuhi kebijakan pemerintah dengan mengubah perilaku yang sehat serta lebih cerdas menelusur dan menyikapi berita simpang siur yang menyurutkan persepsi masyarakat terhadap covid-19 (Widodo dalam Rizkinaswara, 2020).

 

                                                     Zoom Meeting (Era Disrupsi)


Aksi Perjuangan

Menaati kebijakan pemerintah untuk menjaga kesehatan melalui New Normal bukan berarti mematikan perekonomian seperti pendapat yang beredar di masyarakat. Sering kita salah mengartikan bahwa ini merupakan titik awal kurangnya penghasilan pada masyarakat. Tidak semua masyarakat dapat bertahan di masa resesi ekonomi bangsa ini. Sejatinya kita hanya perlu mengubah bidang pekerjaan saja. Bagi masyarakat yang masih memiliki penghasilan dapat berhemat dan dapat mengikuti kursus atau pelatihan online atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saat ini pekerja harus menyesuaikan metoda sesuai era disrupsi (digital), karena revolusi industri 4.0 menuntut Sumber Daya Manusia yang berkualitas dan berdaya saing. Munculnya kecerdasan tiruan menambah persaingan tenaga kerja sehingga merupakan cambuk bagi kita untuk senantiasa meningkatkan kemampuan dan keterampilan sebagai kelebihan yang patut diperhitungkan ketika harus dibandingkan dengan mesin (Robandi, 2019). Adapun pada masyarakat yang sama sekali tidak  berpenghasilan ataupun tabungannya sudah habis, harus lebih kreatif mencari lapangan pekerjaan yang uptodate (jasa online atau bisnis degrowth yang membumi seperti tanaman hias atau bernilai ekonomi maupun bisnis kuliner yang tidak mengenal mati (Ginting, 2020). Ketahanan ekonomi dicapai dengan (berkebun dan bertani untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga sendiri. Sektor pertanian tumbuh mencapai 16% selama masa pandemik (Masduki, 2020), terbukti banyak masyarakat menanam dan membudidayakan tanaman pangan, bahkan masyarakat perumahan sebagian mengganti jenis tanaman dengan tanaman yang dapat dikonsumsi.

Masyarakat juga perlu untuk mengupayakan; ketahanan pangan, ekonomi dan sosial lingkungan sekitar sesuai amanah persatuan. Ketika ada saudara yang kekurangan adalah kewajiban kita untuk berbagi pada sesama. Pemberian bantuan dan donasi muncul sebagai empati untuk menolong masyarakat yang kurang beruntung dan terhimpit ekonominya. Bersyukur bahwa sudah banyak masyarakat yang mengulurkan bantuan, pembagian bahan makanan disalurkan pada daerah-daerah minus di sekitar. Hal ini merupakan kekuatan persaudaraan dan kebangsaan Indonesia, pada saat rasa care sudah mulai menipis di masa modern seperti sekarang, menjadi tumbuh subur lagi dengan adanya pandemi covid-19 pada masyarakat.

 Sungguh beragam upaya perjuangan di masa pandemik, keberhasilan di semua bidang merupakan tolok ukur masih adanya semangat kebangsaan dalam diri kita, terbukti dapat lolos dari  banyak masalah yang menguji persatuan. Banyak tanggung jawab kita bagi negara dan masyarakat untuk dapat tetap berpartisipasi meningkatkan semua sektor pembangunan, termasuk perekonomian yang sempat mengalami kontraksi ekonomi (pertumbuhan ekonomi negatif) pada tahun lalu. Prinsipnya, tidak ada kegiatan positif yang tidak bermanfaat. Disadari maupun tidak disadari pandemi sudah memberikan sisi positif dalam kehidupan baik untuk kebutuhan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat juga berbangsa.  Jangan dikira kegiatan sederhana kita di rumah bukan merupakan perjuangan Kebangkitan Nasional. Jadi kita dapat berperan di bidang penguatan ekonomi domestik dan mempertahankan kesehatan. Penguatan ekonomi domestik merupakan kunci utama untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional yang terdampak pandemik covid-19.


Telah dimuat di Website Pemda Kabupaten Tegal

Materi Ekonomi Kesehatan, Perubahan Perilaku dan Psikologi

Jumat, 07 Mei 2021

AKSI RAMADAN PEDULI IAKMI KABUPATEN TEGAL

Menyambut bulan suci Ramadan tahun 1442 H/2021 M, IAKMI Kabupaten Tegal ikut berbagi dengan aksi peduli. Ini merupakan salah satu amalan yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW dalam bulan suci Ramadan, yakni sedekah pada yang membutuhkan. Untuk itu, Jumat (7/5) IAKMI telah melakukan aksi peduli di desa Dukuhwringin Kecamatan Slawi. Dengan membagikan setidaknya 50 paket sembako, 10 botol hand sanitizer, 5 botol sabun cuci tangan dan 500 masker. Paker sembako tersebut berisi beras, gula pasir, kacang hijau, minyak sayur, gula jawa, teh, dan biskuit bergizi. 

"Setidaknya bisa meringankan beban mereka terutama menjelang Idul Fitri. Dan mengajak untuk selalu menerapkan protokol kesehatan," ungkap Joko Kurnianto, ketua IAKMI Kabupaten Tegal menerangkan tujuan kegiatan ini. 

Perwakilan anggota IAKMI sekitar 17 personel dikerahkan untuk membaginya kepada yang membutukan seperti buruh pekerja berat, tukang becak, penyapu jalanan, pedangang kecil, dan pengurus masjid Al-Ma'ruf Slawi. Pandemi Covid-19 masih berlangsung, banyak keterbatasan aktivitas masyarakat terutama aktivitas ekonomi. Hal ini sangat berdampak pada rakyat kecil. IAKMI ikut berperan dengan berbagai kegiatan penanggulangan Covid-19, baik melalui peran anggotanya di instansi kesehatan maupun di luar instansi.    


  

  


 

Jumat, 07 Agustus 2020

Tiga level kesadaran manusia menghadapi corona

Kesadaran manusia atas suatu hal memang berbeda-beda. Tergantung tingkat pendidikan, pola interaksi, paradigma, motif dan tujuan. Semua pendidikan hakikatnya bertujuan meningkatkan level kesadaran. Pendidikan yang menganggap manusia bagaikan bank, sekedar tempat menyimpan ilmu, bukanlah menghasikan sebuah kesadaran. Namun justru kesadaran lah yang akan membedakan manusia dengan hewan. Demikian pendapat Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan Brasil, teoretikus pendidikan yang berpengaruh di dunia. Dia menggolongkan kesadaran menjadi tiga, yakni kesadaran magis, kesadaran naif dan kesadaran kritis. Dimanakah tingkat kesadaran kita dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang sedang melanda ini? 

Kesadaran magis lahir karena paradigma konservatif. Tidak mau berubah, bertahan di zona nyaman dengan status quo-nya. Kesadaran magis ini menganggap pandemi covid-19 yang ada di masyarakat sebagai sesuatu yang alami, memang sudah seharusnya terjadi. Covid-19 dianggap sudah menjadi ketentuan sejarah dan takdir Tuhan, maka tidak penting untuk mengetahui covid-19 secara sisi ilmiah. Perubahan sosial dianggapnya bukan sesuatu yang harus diperjuangkan. Perubahan hanya akan membuat manusia lebih sengsara. Manusia dianggap tidak bisa merencanakan perubahan atau mempengaruhi perubahan sosial. Hanya Tuhan yang bisa merubah keadaan covid-19 ini karena Tuhan lah yang merencanakan terjadinya pandemi ini. Solusi atas covid, semuanya adalah rahasia ilahi. 

Coba lihat sekeliling kita, masih banyak masyarakat yang tingkat kesadaranya ada di level kesadaran magis ini. Berapa banyak yang mengabaikan protokol kesehatan. Masih bersalaman dengan selain keluarga inti, tidak memakai masker saat keluar rumah, tidak jaga jarak. Banyak masyarakat yang tidak sadar bahwa kita sedang dalam masalah. Anggapan toh di dunia ini banyak penyakit mematikan lainnya dan itu memang sudah demikian adanya. Toh penyakit yang bersifat pandemi akan selalu ada dari dulu dan sampai kapanpun. Setelah Corona ini ya pasti akan ada penyakit pandemi baru, atau penyakit lama yang akan muncul kembali. Sudah biasa. Siklus kehidupan, takdir, ini hanya cobaan dari Tuhan, atau memang hak Tuhan untuk murka.

Kesadaran magis ini merekomendasikan manusia untuk lebih baik mengabaikan covid, tidak mau tahu, menganggapnya tidak ada, atau menganggapnya ada namun bukan sebuah masalah. Kesadaran magis ini terlihat juga dalam sikap penolakan rapid test, mereka lebih baik untuk tidak mengetahui adanya masalah. Dalam ketidaktahuannya mereka bisa lebih berani menghadapi Corona dari pada orang yang mengetahuinya secara ilmiah. Mereka lebih berani bersalaman, santai dengan tidak memakai masker dan merasa aman saat tidak menerapkan social distancing. Untuk mempertahankan pendapatnya di dunia sosial, mereka melakukan pembenaran keyakinannya dengan terus meredam arus informasi penting tentang covid-19 beserta resikonya, mengabaikan anjuran pemerintah, melakukan argumentasi pendapat yang tidak ilmiah bahkan bisa sampai menantang siap untuk terkena covid-19.

Banyak hal penyebab kesadaran magis masyarakat atas covid-19 ini. Bisa dari faktor publikasi pemerintah yang kurang sampai ke mereka. Dalam komunikasi informasi edukasi ada faktor siapa yang menyampaikan berita, isi berita itu sendiri, cara penyampaian berita, media penyampaian berita, dan bagaimana rantai penyampaian informasi. Perlu dikaji efektivitas dari semua faktor rantai informasi tersebut karena orang dengan kesadaran magis cenderung masih bertahan di mitos, bukan di logos (ilmu).

Kedua, kesadaran naif. Lebih tinggi levelnya dari kesadaran magis. Kesadaran naif ini mengakui adanya masalah. Yakin bahwa covid-19 ada, meyakini keilmiahannya. Namun kesadaran naif ini menafikan potensi manusia untuk melakukan sebuah perubahan dari ketertindasan, takdir, nasib buruk. Pendidikan dan keterampilan manusia tak berhubungan dengan persoalan di masyarakat. Dunia ini dianggap sebuah sistem otomatis yang berjalan penuh dengan keteraturan. Kalaupun ada masalah maka yang perlu diperbaiki adalah individunya, bukan sistemnya.

Kesadaran naif menganggap pendidikan adalah untuk mempersiapkan manusia menerima kenyataan, bukan untuk mengubah keadaan. Manusia ini sadar bahwa mereka sedang dalam masalah pandemi, mereka bisa saja kecewa atas dampak Corona. Namun mereka berkeyakinan bahwa perubahan adalah di luar kontrol manusia. Alam semesta dianggap pasti memiliki mekanisme harmoni tersendiri. Dunia ini akan sembuh sendiri dari Corona, entah itu dengan jalan herd-immunity atau cara alami lainnya. Tuhan yang Maha Pengasih pasti akan menyelesaikannya dengan cara yang tidak diduga oleh manusia.

Kesadaran naif menyadarkan bahwa covid-19 adalah masalah yang aktual. Namun dia tetap melihat manusia dengan segala sisi keterbatasan sehingga percuma untuk melakukan langkah perubahan apapun. Manusia dianggap bukan menjadi bagian yang berkewajiban untuk berubah. Untuk apa sebuah perubahan, toh semua manusia juga akan mati. Mereka semakin putus asa untuk melakukan perubahan karena adanya rintangan di setiap upayanya. Perubahan dianggap mustakhil untuk diupayakan, hanya “tangan Tuhan” yang bisa. Seandainya pandemi tidak berakhirpun, itu dianggap kewajaran yang sudah digariskan oleh takdir Tuhan. Tak ada yang bisa melawan kehendak-Nya.

Maka satu-satunya pilihan saat menghadapi pandemi adalah menerima takdir pahit tersebut. Kesadaran naif tidak memberdayakan manusia dan tidak menempatkan manusia dalam posisi upaya optimal yang bisa dilakukan. Banyak ketidakmungkinan dan pesimisme akan adanya solusi yang disengaja. Semuanya hanyalah jalan buntu. Kesadaran naif ini merekomendasikan manusia untuk bertingkah pasrah. Upaya mereka tidak ada, atau hanya normatif dan setengah-setengah. Mereka bertoleransi pada pelanggaran-pelanggaran social distancing, mereka masih bersalaman dengan alasan “tidak enak” secara sosial, memakai masker hanya sebagai hiasan di leher. Tidak menganggap bahwa sekecil apapun upaya mereka sangatlah bermakna bagi pandemi ini.

Yang terakhir, ada yang disebut kesadaran kritis. Kesadaran ini timbul karena adanya potensi manusia dan keharusan untuk berubah. Manusia ini sadar bahwa dia memiliki kemampuan mengubah struktur secara fundamental. Alam memiliki aturan hukum sendiri untuk berjalan, namun manusia diyakini memiliki ruang untuk berpikir melampaui dan bangkit (transendensi) serta melakukan sebuah perubahan (transformasi). Kesadaran kritis ini tidak hanya sadar kita sedang dalam masalah namun tidak membiarkan dan menyerahkan masalah itu pada mekanisme alami atau takdir Tuhan belaka. Kesadaran kritis selalu siap dan terbuka dengan masalah apapun, resikonya dan siap untuk mencari solusi. Yakin bahwa melakukan perubahan sekecil apapun adalah sebuah mekanisme yang harus ditempuh.

Kesadaran kritis merekomendasikan adanya sebuah harapan dan optimisme. Kesadaran kritis manusia atas covid-19 ini terlihat dari sikap seperti menganggap data adalah sesuatu yang penting. Menyajikan data berapa jumlah hasil pemeriksaan yang terkonfirmasi positif covid-19 dengan apa adanya.  Menerima masalah sebagai fakta aktual yang tidak perlu disembunyikan. Tak perlu naif dan konyol dengan menolak realitas. Bahkan manusia dengan kesadaran kritis tidak hanya memperhatikan masalah yang aktual saja, masalah yang masih bersifat potensial juga sudah perlu disikapi dengan manajemen resiko. Kesadaran kritis memahami fitroh manusia adalah untuk melakukan perubahan dengan upaya optimal. Kalaupun upayanya tidak berhasil menurunkan pandemi, mereka tetap terus berupaya bagaimana caranya mengurangi dampak kesakitan atau kematian, dampak penyebaran, dampak sosial dan ekonomi dari pandemi ini.

Kesadaran kritis ini terlihat dari sikap tidak menganggap remeh covid-19 dan langkah pencegahannya. Meskipun dicemooh orang di sekitarnya yang menganggapnya berlebihan dalam menyikapi covid-19. Mereka dianggap penakut, tidak bertawakal kepada Tuhannya. Ketakutannya dalam menjaga jarak, takut bersalaman dengan orangtuanya sendiri yang sudah bukan keluarga inti, dianggap konyol dan tidak menghargai etiket sopan santun. Namun upaya orang-orang dengan kesadaran kritis ini tidak akan pernah berhenti, sekecil apapun adalah sangat bermakna. Mereka tidak akan menyerah kepada takdir, mereka memaknai upaya mereka adalah bagian dari takdir Tuhan yang menginginkan perubahan. Justru perubahan pandemi ini tak akan terjadi tanpa langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan yang mendasar ini.

Di level pemimpin, kesadaran kritis ini akan melahirkan pemimpin tranformasional. Pemimpin yang memiliki tanggung jawab besar untuk melakukan perubahan. Optimisme pemimpin yang kritis ini akan melahirkan harapan pada banyak orang. Sikapnya akan menggerakan orang-orang untuk kritis kepada masalah yang ada, kritis kepada cara pencegahan dan penanggulangannya, dan kritis pada dampak langsung maupun tidak langsung dari pandemi ini. Perhatian kritisnya kepada masyarakat akan mendapatkan dukungan balik di semua langkah kebijakannya.

Ditulis oleh: Bagus Johan Maulana, SKM (Kabid Litbang IAKMI Kab. Tegal)

Selasa, 04 Agustus 2020

Penyakit Cacingan Sebabkan Dampak Buruk pada Anak



Rabu (29/7) Dinas Kesehatan berkerja sama Dengan Radio Slawi FM mengadakan acara Talkshow mengenai kesehatan bertema “Waspada Penyakit Cacingan sebelum Mengganggu Pertumbuhan anak” dengan narasumber dr. Jamaludin dari Puskesmas Kupu. Kegiatan ini disiarkan melalui Radio Slawi FM 99,3 pukul 10.00-11.00  WIB.  Kegiatan talkshow mengenai kesehatan ini merupakan kegiatan yang  rutin disiarkan  satu minggu sekali setiap hari rabu di Slawi FM 99.3 pukul 10.00 sampai pukul 11.00 WIB.  

Dalam paparannya, dr. Jamaludin, Kecacingan merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit berukuran mikro yang mengambil makanan dari usus yang berisi banyak sari Makanan. Kecacingan merupakan salah satu penyakit yang tergolong tinggi kejadiannya di Indonesia. Menurut data depkes 2006  Prevalensi penyakit cacingan semua umur di Indonesia yaitu Antara 40-60%.

Cacing memasuki tubuh melalui dua jalan yaitu, pertama lewat mulut, yaitu ketika anak makan makanan yang tidak higienis, atau ketika anak bermain-main pasir lalu lupa cuci tangan sebelum makan sedangkan kukunya panjang telur cacing masuk lewat mulut ketika anak makan turun ke anus lalu  menetap di usus besar. “Itulah makanya orang tua penting sekali untuk memotong kuku anaknya satu minggu sekali agar bisa memutus rantai hidup cacing” Imbuh Irsan. 

Kedua Cacing masuk lewat pori-pori. Bila anak tidak memakai alas kaki saat berjalan di tanah dan bersentuhan dengan larva cacing. Sangat mungkin larva itu masuk ke dalam tubuhnya lewat pori-pori.

“Makanan yang tidak higienis juga bisa menyebabkan kecacingan”, kata dr Jamal.  Makanan yang menyebabkan kecacingan biasanya dikarenakan proses pemasakan yang tidak baik. Agar tidak menyebabkan cacingan makanan harus dicuci dan dimasak sampai matang. Contohnya daging, kita harus memasak daging sampai matang agar terhindar dari penyakit cacingan.

Cacing yang biasa menyerang orang antara lain Cacing gelang , cacing cambuk, cacing tambang dan cacing kremi. Cacing yang banyak diderita anak-anak yaitu cacing kremi. Cacing kremi bertelur dimalam hari dan bertelur di sekitar anus, Ciri khas anak menderita cacing kremi yaitu merasa gatal di anus yang akhirnya menyebabkan anak garuk-garuk seputar anus. Tangan anak yang tertempel telur cacing bisa menempelkan telur cacing ke perrmukaan sprei atau permukaan lainnya. Telur cacing bias hidup 2-3 minggu pada sprei dan permukaan lainnya.

Gejala penyakit cacingan menurut dr. Jamal antara lain muka pucat dan tampak lelah, badan kurus dan perut tampak buncit, anak lesu dan malas belajar, kadang perut mulas dan terjadi mencret, pada tinja terkadang ditemukan cacing.

Sedangkan akibat menderita penyakit cacingan  antara lain pertahanan tubuh menurun dan mudah sakit, mengakibatkan kurang darah (anemia), menderita kurang gizi, tingkat kesadaran menurun dan prestasi menurun dan dubur terasa gatal.

Disarankan untuk setiap orang meminum obat cacing setiap 6 bulan sekali. Di Kabupaten Tegal Program Pemberian Obat Pencegahan Masal (POPM) Cacingan pada anak balita dan anak sekolah dasar  dilaksanakan 1 tahun sekali setiap bulan Agustus - September dengan sasaran anak usia 1-12 tahun. Obat cacing diberikan secara gratis. Untuk anak sekolah dasar minum obat yang dibagikan pada kegiatan penjaringan kesehatan anak sekolah. Untuk anak balita minum obat diberikan bersamaan dengan pemberian vitamin A. Obat cacing yang diberikan yaitu Albendazole, dosis tunggal (400mg). Obat cacing di berikan oleh petugas Puskesmas atau kader atau guru disekolah. Sebelum minum obat cacing, anak/balita harus sarapan dahulu dirumah masing-masing.

“Semua anak-anak harus meminum obat cacing karena anak-anak sangat mudah terinfeksi cacing perut dan infeksi cacing bisa  memberikan dampak buruk pada anak seperti anak menjadi kurang gizi dan kemampuan belajar anak menurun” pungkas dr Jamal.

Sebagai penutup dr Jamal mengatakan bahwa kecacingan bisa  menyerang siapa saja. Pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Dokter jamal mengingatkan agar kita jangan lupa untuk selalu mencuci tangan pakai sabun, pakai sepatu atau sandal, minum obat cacing minimal  6 bulan sekali, masak daging sampai matang dan jangan lupa menerapkan pola hidup bersih dan sehat.(MKA)