Minggu, 24 Agustus 2025

Tanggap darurat bencana krisis air di Tegal, Dinkes distribusikan 13 tangki ke lokasi.

"Sudah sejak bulan Juli sumur warga kering, kini air irigasi sawah juga tidak ada." Ungkap bu Carik ds. Timbangreja saat ditemui Selasa (19/8). Krisis air ini juga melanda desa Lebaksiu Kidul, Danawarih, Lebaksiu Lor, dengan total jiwa terdampak 12.633 (data laporan krisis kesehatan, Dinkes).

Selain kemarau, krisis ini juga merupakan dampak dari proyek nasional revitalisasi bendungan desa Danawarih dan saluran irigasi. Aliran sungai Gung ke saluran tertier menjadi tidak ada sehingga mengakibatkan sumur warga kering.  Untuk minum, warga mengandalkan bantuan donasi, sedangkan untuk mencuci baju, warga harus ke sungai Gung yang jaraknya cukup jauh.

Pemerintah daerah Kabupaten Tegal sudah menetapkan ini sebagai status tanggap darurat sejak 1 Agustus sampai akhir Oktober nanti. Sejak Selasa-Sabtu kemarin Dinas Kesehatan mendistribusikan air bersih sejumlah 13 tangki melalui PMI. Senin (25/8) juga akan didistribusikan donasi galon air layak pakai untuk warga, karena masih banyak yang menggunakan ember besar saat mengantri air bersih.

Ruszaeni, kepala Dinas Kesehatan menghimbau kepada seluruh insan kesehatan, organisasi profesi, instansi kesehatan untuk ikut membantu meringankan warga yang terdampak. "Jangan sampai timbul masalah kesehatan," pungkasnya.

Jumat, 01 Agustus 2025

Apakah Angka Bebas Jentik masih relevan?

Selama ini kita menggunakan Angka Bebas Jentik (ABJ) untuk menggambarkan faktor risiko sebuah daerah dari penyakit Dengue. ABJ dihitung dari persentasi jumlah rumah yang bebas jentik dari seluruh rumah yang diperiksa jentik nyamuknya. Data ini tercatat dan terlaporkan melalui sistem silantor (Sistem Informasi Surveilans dan Vektor) di web silantor.kemkes.go.id. ABJ yang tinggi (target >95%) menggambarkan daerah tersebut aman dari penularan Dengue. 

Perhitungan ABJ di silantor berasal dari hasil kegiatan seperti Penyelidikan Epidemiologi (PE), survei jentik seperti kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB), Gerakan 1 rumah 1 jumantik (G1R1J), inspeksi sanitasi (IS) rumah/fasilitas umum, kegiatan survei mawas diri (SMD), dsb. Apakah kegiatan tersebut menggunakan sistem sampling yang dapat merepresentasikan kondisi populasi di area tersebut? Belum tentu.  

Jika data diambil dari kegiatan PE kasus Dengue, wajar jika ditemukan banyak jentik Aedes (ABJ rendah). Jika data diambil dari kegiatan PJB/G1R1J, tergantung kapan survei jentiknya. Jika dilakukan sebelum penyuluhan/gerakan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) serempak, wajar jika ditemukan banyak jentik. Apakah survei jentik itu rutin dilakukan seminggu sekali atau hanya sesekali (karena keterbatasan anggaran). Apakah dilakukan pada musim hujan atau kemarau. Semua itu akan mempengaruhi temuan jentik.   

Bagaimana teknik pemilihan sampling areanya? Jika menggunakan probability sampling, seperti pemilihan lokasi survei tanpa kepentingan tertentu, itu fair. Namun faktanya, banyak kegiatan jumantik/PJB/siswantik yang dilakukan sekaligus dalam rangka meningkatkan kewaspadaan dinipada desa-desa endemis DBD saja. 

Jika data ABJ diperoleh dari kegiatan IS/SMD rumah atau fasum yang kadang dilakukan oleh programer kesling/promkes, kegiatan lintas program seperti ini juga kadang memiliki pemilihan lokus survei atas dasar pertimbangan tertentu (non probability sampling). Seperti siapa pelakunya, bagaimana kondisi tempat, dan kegiatan/perilaku kesehatan masyarakat di area tersebut. Yang akhirnya, tidak semua rumah memiliki peluang yang sama menjadi sampel.

Lalu dari mana idealnya ABJ diperoleh? Teknik sampling yang benar, jawabannya. (bjm/epid)